Sabtu, 28 April 2012

Askep DM Pada Lansia


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proses menua adalah keadaan yang tidak dapat dihindarkan. Manusia seperti halnya semua makhluk hidup didunia ini mempunyai batas keberadaannya dan akan berakhir dengan kematian. Perubahan-perubahan pada usia lanjut dan kemunduran kesehatannya kadang-kadang sukar dibedakan dari kelainan patologi yang terjadi akibat penyakit. Dalam bidang endokrinologi hampir semua produksi dan pengeluaran hormon dipengaruhi oleh enzim-enzim yang sangat dipengaruhi oleh proses menjadi tua.
Diabetes mellitus yang terdapat pada usia lanjut gambaran klinisnya bervariasi luas dari tanpa gejala sampai dengan komplikasi nyata yang kadang-kadang menyerupai penyakit atau perubahan yang biasa ditemui pada usia lanjut.
Dalam makalah ini dibahas masalah penyakit diabetes pada usia lanjut beserta asuhan keperawatannya.

B. Tujuan
  1. Tujuan Umum
Mengetahui asuhan keperawatan pada klien lansia dengan diabetes mellitus.
  1. Tujuan Khusus
a.    Mengetahui definisi diabetes mellitus
b.    Mengetahui etiologi diabetes mellitus
c.     Mengetahui gambaran klinis diabetes mellitus
d.    Melakukan pengkajian pada klien dengan diabetes mellitus
e.    Menyusun intervensi pada klien dengan diabetes mellitus

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup makalah ini adalah hanya membahas tentang asuhan keperawatan pada klien lansia dengan Diabetes Mellitus (DM).



BAB II

PEMBAHASAN

A.    KONSEP TEORI
1.    Pengertian
Diabetes mellitus merupakan suatu gangguan kronis yang ditandai dengan metabolisme karbohidrat dan lemak yang diakibatkan oleh kekurangan insulin atau secara relatif kekurangan insulin.
Klasifikasi diabetes mellitus yang utama adalah tipe I : Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) dan tipe II : Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)
            2.     Etiologi
Beberapa ahli berpendapat bahwa dengan bertambahnya umur, intoleransi terhadap glukosa juga meningkat, jadi untuk golongan usia lanjut diperlukan batas glukosa darah yang lebih tinggi daripada orang dewasa non usia lanjut.
Pada NIDDM, intoleransi glukosa pada lansia berkaitan dengan obesitas, aktivitas fisik yang berkurang,kurangnya massa otot, penyakit penyerta, penggunaaan obat-obatan, disamping karena pada lansia terjadi penurunan sekresi insulin dan insulin resisten. Lebih dari 50% lansia diatas 60 tahun yang tanpa keluhan, ditemukan hasil  Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) yang abnormal. Intoleransi glukosa ini masih belum dapat dikatakan sebagai diabetes. Pada usia lanjut terjadi penurunan maupun kemampuan insulin terutama pada post reseptor.
Beberapa faktor yang berkaitan dengan penyebab diabetes mellitus pada lansia (Jeffrey) :
1.    Umur yang berkaitan dengan penurunan fungsi sel pankreas dan sekresi insulin.
2.    Umur yang berkaitan dengan resistensi insulin akibat kurangnya massa otot dan perubahan vaskuler.
3.    Obesitas, banyak makan.
4.    Aktivitas fisik yang kurang
5.    Penggunaan obat yang bermacam-macam.
6.    Keturunan
7.    Keberadaan penyakit lain, sering menderita stress 
           3.    Gambaran Klinis
Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM lansia umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim.
Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah

·        Katarak                    
·        Glaukoma
·        Retinopati
·        Gatal seluruh badan
·        Pruritus Vulvae
·        Infeksi bakteri kulit
·        Infeksi jamur di kulit
·        Dermatopati
·        Neuropati perifer
·        Neuropati viseral
·        Amiotropi
·        Ulkus Neurotropik
·        Penyakit ginjal
·        Penyakit pembuluh darah perifer
·        Penyakit koroner
·        Penyakit pembuluh darah otak
·        Hipertensi

Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut.
Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba, apabila pasien mengalami infeksi akut. Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia. Gejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan berkeringat banyak umumnya tidak ada pada DM usia lanjut. Biasanya tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak.
Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. Sedangkan gejala kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih jelas.
            4.    Komplikasi
a.    Makroangiopati (aterosklerosis), mikroangiopati, dan neuropati.
b.    Koma hiperosmolaritas dimana glukosa darah didapatkan sangat tinggi (>600 mg/dL)
c.    Hipernatremia, osmolaritas tinggi (>350 m Osm/L)
5.    Penatalaksanaan
Menurut Steven diperkirakan 25 – 50% dari DM lansia dapat dikendalikan dengan baik hanya dengan diet saja. 3% membutuhkan insulin dan 20 – 45% dapat diobati dengan oral anti diabetik dan diet saja.
Para ahli berpendapat bahwa sebagian besar DM pada lansia adalah tipe II, dan dalam penatalaksanaannya perlu diperhatikan kasus perkasus, cara hidup pasien, keadaan gizi dan kesehatannya, adanya penyakit lain yang menyeertai serta ada/tidaknya komplikasi DM.

Pedoman penatalaksanaan DM lansia adalah :
a.    Menilai penyakitnya secara menyeluruh dan memberikan pendidikan kepada pasien dan keluarganya.
b.    Menghilangkan gejala-gejala akibat hiperglikemia (quality of life) seperti rasa haus, sering kencing, lemas, gatal-gatal.
c.    Lebih bersifat konservatif, usahakan agar glukosa darah tidak terlalu tinggi (200-220 mg/dl) post prandial dan tidak sampai normal betul karena bahaya terjadinya hipoglikemia.
d.    Mengendalikan glukosa darah dan berat badan sambil menghindari resiko hipoglikemia.
B.   KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

    1.    Pengkajian

a.    Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?
b.    Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya
Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.
c.    Aktivitas/ Istirahat :
Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun.

d.    Sirkulasi
Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah
e.    Integritas Ego
Stress, ansietas
f.     Eliminasi
Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare
g.    Makanan / Cairan
Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik.
h.    Neurosensori
Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan penglihatan.
i.      Nyeri / Kenyamanan
Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat)
j.      Pernapasan
Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)
k.    Keamanan
Kulit kering, gatal, ulkus kulit

     2.    Masalah Keperawatan

a.    Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan
b.    Gangguan integritas kulit
c.    Resiko terjadi injury
3.    Intervensi
a.    Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan masukan oral, anoreksia, mual, nyeri abdomen.
Intervensi :
1)    Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi.
2)    Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.
3)    Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen / perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi.
4)    Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui oral.
5)    Libatkan keluarga pasien pada pencernaan makan ini sesuai dengan indikasi.
6)    Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala.
7)    Kolaborasi melakukan pemeriksaan gula darah.
8)    Kolaborasi pemberian pengobatan insulin.
9)    Kolaborasi dengan ahli diet.
      b.    Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati       perifer).
1)   Kaji luka, adanya epitelisasi, perubahan warna, edema, dan discharge, frekuensi ganti balut.
2)   Kaji tanda vital
3)   Kaji adanya nyeri
4)   Lakukan perawatan luka
5)   Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi.
6)   Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
c.    Resiko terjadi injury berhubungan dengan  penurunan fungsi penglihatan
1)   Hindarkan lantai yang licin.
2)   Gunakan bed yang rendah.
3)   Orientasikan klien dengan ruangan.
4)   Bantu klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari





BAB III
KESIMPULAN

Diabetes mellitus merupakan suatu gangguan kronis yang ditandai dengan metabolisme karbohidrat dan lemak yang diakibatkan oleh kekurangan insulin atau secara relatif kekurangan insulin.
Klasifikasi diabetes mellitus yang utama adalah tipe I : Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) dan tipe II : Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)
Faktor yang berkaitan dengan penyebab diabetes mellitus pada lansia adalah Umur yang berkaitan dengan penurunan fungsi sel pankreas dan sekresi insulin, Umur yang berkaitan dengan resistensi insulin akibat kurangnya massa otot dan perubahan vaskuler, Obesitas, banyak makan, Aktivitas fisik yang kurang, Penggunaan obat yang bermacam-macam, Keturunan, Keberadaan penyakit lain, sering menderita stress.
Pada DM lansia tidak terjadi poliuria, polidipsia, akan tetapi keluhan yang sering muncul adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Prinsip penatalaksanaan DM lansia adalah Menilai penyakitnya secara menyeluruh dan memberikan pendidikan kepada pasien dan keluarganya, Menghilangkan gejala-gejala akibat hiperglikemia,Lebih bersifat konservatif, Mengendalikan glukosa darah dan berat badan.







DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih. Jakarta : EGC. 1997.
Doenges, Marilyn E. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati. Jakarta : EGC. 1999.
Francis S Greenspan, John D Baxter. Endokrinologi dasar & klinik edisi 4. Jakarta : EGC. 1998.
Ikram, Ainal.  Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi ketiga. Jakarta : FKUI. 1996.
Luecknote, Annette Geisler. Gerontologic Nursing second Edition. St. Louis Missouri : Mosby,Inc. 2000.
Luecknote, Annette Geisler.  Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani. Jakarta:EGC. 1997.
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih. Jakarta : EGC. 2002.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar